Pengertian filsafat pendidikan islam - Diskusi Sehat

Monday, 17 August 2020

Pengertian filsafat pendidikan islam

 A. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam

     Filsafat Pendidikan pada umumnya, dan Filsafat Pendidikan Islam pada khususnya adalah bagian dari ilmu filsafat, maka dalam mempelajari filsafat ini terlebih dahulu tentang pengertian filsafat terutama dalam hubungannya dengan pendidikan Islam. Secara harfiyah filsafat berarti “Cinta kepada Ilmu”. Filsafat berasal dari kata : “Philo” = cinta dan “Sophos” = ilmu/hikmah. Secara historis filsafat menjadi INDUK segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman Yunani Kuno sampai zaman modern sekarang. (Arifin, 1996:1) 

     Filsafat Pendidikan Islam memiliki pengertian yang mengkhususkan kajian pemikiran-pemikiran yang menyeluruh dan mendasar tentang berdasarkan tuntunan ajaran islam. Sedangkan ajaran islam sebagai sebuah sistem yang diyakini oleh penganutnya yang memiliki nilai-nilai tentang kebenaran yang hakiki dan mutlak untuk dijadikan sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk didalmanya aspek pendidikan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa filsafat pendidikan islam adalah pemikiran yang radikal dan mendalam tentang berbagai masalah yang ada hubungannya dengan pendidikan Islam. (Samsul Nizar, 2009:4)

     Orang-orang yunani, lebih kurang 600 tahun sebelum masehi, telah menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha membantu manusia menjadi manusia. Ada dua kata yang penting dalam kalmat itu, pertama “membantu” dan kedua “manusia”.

     Manusia perlu dibantu agar ia berhasil menjadi manusia. Seseorang telah dapat dikatakan telah menjadi manusia bila telah memiliki nilai (sifat) kemanusiaan. Itu menunjukkan bahwa tidaklah mudah menjadi manusia. Karena itulah sejak dahulu banyak manusia gagal menjadi manusia. Jadi, tujuan mendidik ialah me-manusia-kan manusia. Agar tujuan itu dapat dicapai dan agar program dapat disusun maka ciri-ciri manusia yang telah menjadi manusia itu haruslah jelas. Orang –orang yunani itu menentukan tiga syarat untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air,; dan ketiga berpengetahuan.(Ahmad Tafsir, 2010:33)

B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

     Dalam rangka menggali, menyusun dan mengembangkan pemikiran kefilsafatan tentang pendidikan, terutama pendidikan Islam. Kiranya perlu diikuti pola dan sistem pemikiran kefilsafatan pada umumnya. 

     Adapun pola dan sistem pemikiran kefilsafatan sebagai suatu ilmu adalah : 

     Pemikiran kefilsafatan harus bersifat sistematis, dalam arti bahwa cara berpikirnya bersifat logis dan rasional tentang hakikat permasalahan yang dihadapi.

     Tinjauan terhadap permasalahan yang dipikirkan bersifat radikall artinya menyangkut persoalan-persoalan mendasar sampai keakar-akarnya.

     Ruang lingkup pemikirannya bersifat universal, artinya persoalan-persoalan yang diperkirakan mencakup hal-hal yang menyeluruh  dan mengandung generalisasi bagi semua jenis dan tingkat kenyataan yang ada dalam ini, termasuk kehiduoan manusia, baik dimasa sekarang maupun masa mendatang.

     Meskipun pemikiran yang dilakukan lebih bersifat spekulatif, artinya pemikiran yang tidak didasari pembuktian-pembuktian empiris atau eksperimental (seperti dalam ilmu alam), akan tetapi mengandung nilai-nilai obyektif. (Arifin, 1996:5)

     Secara marko, yang menjadi ruang lingkup Filsafat Pendidikan Islam adalah objek formal filsafat itu sendiri, yaitu mencari keterangan secara radikal mengenai Tuhan, manusia dan alam, yang tidak dapat dijangkau oleh pengetahuan biasa. Sebagaimana filsafat, filsafat pendidikan juga mengkaji keempat objek sebagai berikut : (Toto Suharto, 2011:40) 


     Kosmologi merupakan pemikiran yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai ciptaan Tuhan, proses kejadian dan perkembangan hidup manusia dialam  nyata dan lain-lain.

     Ontologi merupakan pemikiran tentang masalah asal kejadian alam semesta dari mana asalnya, bagaimana proses penciptaannya dan kemana akhirnya.

     Epismologi merupakan pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia diperoleh, apakah dari akal pikiran, apakah dari pengalama indrawi, apakah dari perasaan/ilustrasi, apakah dari Tuhan.

     Aksiologi merupakan pemikiran tentang masalah nilai-nilai, misalnya normal, etika, etestika nilai religius dan sebagainya. (Ramayulis, 2009:12) 


C. Dasar dan Tujuan Filsafat Pendidikan Islam

     Secara umum pendidikan mencakup suatu pengertian yang luas. Secara garis besarnya pengetahuan itu mencakup tiga aspek berupa : 

     Seperangkat teknik atau cara untuk memberi pengetahuan, keterampilan dan tingkah laku.

     Seperangkat teori yang maksudnya untuk menjelaskan dan membenarkan penggunaan teknik dan cara-cara tersebut.

Seperangkat nilai, gagasan atau cita-cita sebagai tujuan yang dijelmakan serta dinyatakan dalam pengetahuan, keterampilan, dan tingkah laku, termasuk jumlah dan pola latihan yang harus diberikan. (Jalaluddin, 1999:18)


     Sebagaimana ajaran Islam, Filsafat pendidikan Islam bersumber pokok pada Al-Qur’an dan Hadits. Adapun sumber-sumber lain terdiri dari atas qiyas syar’i dan ijma’ ulama ada sepanjang masa. Adapun dasar yang kokoh tersebut adalah al-Qur’an dan Sunnah, lebih memantapkan dasar dan tujuan filsaaft pendidikan islam.

     Ketika filsafat yang dibuat oleh hasil pemikir para filosof dan ahli pendidikan yang beersumberkan dari kedua pedoman tersebut, maka kebenaran filsafat yang dihasilkan akan terjaga dari kecenderunagn yang menyimpang. Hal ini disebabkan beberapan alasan, yaitu :

     -Pertama, karena adanya pedoman yang jelas dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

     -Kedua, para filosof pendidkan muslim menyepakati kebenaran ajaran yang ada dalam kedua sumber tersebut. Ketiga, sebagai wahyu Ilahi, kedua sumber tersebut sekaligus mengikat pertanggungjawaban para filosof dan ahli pendidikan islam dengan tanggung jawab agama.

     Tujuan pendidikan Islam menurut filsafat pendidikan Islam adalah unutk mempertinggi akhlak. Tujuan ini identik dengan tugas kenabian yang diemban oleh Rasul yang diutus unutk membina akhlak yang mulia. Dua sasaran pokok yang menjadi tujuan filsafat pendidikan Islam adalah abadi dan positif. Abadi, karena tujuan akhir filsafat pendidikan Islam menembus dimensi ruang dan waktu, yaitu keselamatan didunia dan kebahagiaan di akhirat. Sedangkan positif, karena tujuan yang akan dicapai senantiasa diarahkan kepada bentuk bimbingan potensi manusia yang fitri : jasmani, akal, gaib, dan ruh. Dengan penempatan pemikiran dan tindakan yang sejalan dengan prinsip al-Qur’an dan hadits, maka tujuan pendidikan yang akan dicapai memacu kepada tujuan penciptaan-Nya. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam secara hakiki sejalan dan mengacu ke arah Firman Allah. (Samsul Nizar, 2009:10)

 D. Pendekatan dalam pendidikan filsafat Islam

     Permasalahan yang perlu dipecahkan dalam masalah pendidikan Islam perlu didekati melalui berbagai pendekatan sesuai dengan permasalahannya. Diantara pendidikan yang akan digunakan adalah sebagai berikut :

 -Pendekatan wahyu

 Metode ini digunakan dalam upaya menggali, menafsirkan, dan mungkin menta’wilkan argumen yang bersumber dari pokok ajaran islam yang terkandung dalam al-Qur’an dan Hadis. Dari kajian itu kemudian disusun suatu konsep dasar pendidikan Islam secara filosofis. Dengan landasan keyakinan bahwa ajaran yang bersifat wahyu, merupakan petunjuk yang harus diikuti dan diimani. 

     Dengan adanya keyakinan tersebut diatas, maka usaha yang dilakukan oleh para filosof dan ahli pendidikan Islam hanya pada pengalihan bahasan kebenaran wahyu kedalam bentuk filsafat pendidikan Islam yang bersifat konsepsional.

 - Pendekatan Spekulatif

     Pendekatan Spekulatif merupakan pendekatan yang umum dipakai dalam filsafat, termasuk filsafat pendidikan Islam. Pendekatannya dilakukan dengan cara memikirkan, mempertimbangkan dan menggambarkan suatu objek untuk memncari hakikat yang sebenarnya. Dalam pendidikan, banyak sekali objek yang harus diketahui hakikat yang sebenarnya, seperti hakikat manusia, kurikulum, tujuan, proses, materi, pendidik, peserta didik, evaluasi, dan sebagainya.

 - Pendekatan Ilmiah

     Pendidikan ilmiah menggunakan metode ilmiah dalam memecahkan masalah-masalah yang berkembang ditengah-tengah masyarakat yang ada kaitannya dengan pendidkan. Pendekatan ilmiah berkaitan dengan kehidupan kekinian dengan sasaran adalah problematika pendidikan kontemporer. 

 - Pendekatan Konsep

     Pendekatan ini digunakan untuk mengkaji hasil karya  ulama dan ahli pendidikan Islam dimasa-masa silam. Melalui pendekatan diharapkan dapat diketahui bagaimana konsep-konsep pendidikan Islam dari zaman ke zaman, faktor-faktor yang mempengaruhi perubahannya, serta latar belakang yang mendorong munculnya konsep-konsep tersebut. (Samsul Nizar, 2009:11)

 - Pendekatan Kontekstual

     Maksud dari pendekatan kontekstual disini adalah pendekatab yang mencoba memahami filsafat pendidikan Islam dalam konteks sosial, polotik, budaya, dan sebagainya dimana pendidikan Islam itu berada. Ia bermaksud menjelaskan situasi-situasi dan perkembangan suatu proses pendidikan yang muncul dari konteks-konteks itu. Jadi, pendekatan kontekstual lebih mengarah kepada situasi dan kondisi yang sosiologis-antropologis.

 - Pendekatan Perbandingan

     Pendekatan perbandingan dalam Filsafat Pendidikan Islam digunakan untuk mencari titik kelebihan dan kekurangan dari dua buah pemikiran Filsafat Pendidkan Islam yang berbeda. Disamping itu, pendekatan ini juga bermaksud mengeksplorasi aspek-aspek persamaan dan perbedaan keduanya. Dengan pendekatan perbandingan ini, diharapkan lahir konseptualisasi pemikiran Filsafat Pendidikan Islam yang merupakan sintesis dari dua pemikiran yang berbeda.

     Demikian, pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam kajian Filsafat Pendidikan Islam. Pendekatan-pendekatan ini bukan merupakan sesuatu yang final, tetapi akan terus berkembang, seiring perkembangan zaman, dengan munculnya pendekatan-pendekatan baru. Filsafat Pendidikn Islam sebagai sebuah ilmu harus mengiikuti perkembangan ini, sebagaimana berkembangnya ilmu pengetahuan. Filsafat Pendidikan Islam dapat mengadopsi pendekatan-pendekatan baru ini, agar tidak ketinggalan zaman. Oleh karena itu, ia menerima berbagai pendekatan  yang berasal dari luar disiplin ini. Namun, yang perlu ditekankan adalah bahwa apapun pendekatan yang digunakan dalam Filsafat Pendidikan Islam, hendaknya pendekatan ini, paling tidak mencakup tiga hal kemungkinan, yaitu pengembangan metodologi berpikir, pengembangan metodologi pemaknaan, dan pengembangan metodologi mengkonstruk sebuah teori. (Toto Suharto, 2011:47)

E. Sumber-Sumber Filsafat Pendidikan Islam

     Filsafat pendidikan islam berdasarkan ajaran islam artinya sumber utama ajaran islam, yaitu al-qur’an dan sunah senantiasa dijadikan landasan bagi filsafat pendidikan islam. Filsafat pendidikan islam berdasarkan ajaran yang dijiwai islam artinya, selain al-qur’an dan sunah filsafat pendidikan islam juga mengambil sumber-sumber dari ajaran lain yang sejalan, atau tidak bertentangan dengan pokok ajaran islam.

     Al-qur’an sebagai normatif filsafat pendidikan islam yang pertama dan utama merupakan hudan bagi kehidupan manusia. Meskipun al-qur’an bukan kitab pendidikkan, tetapi didalam ayat-ayatnya terkandung istilah-istilah berkenaan dengan pendidikan. Lima ayat pertama dari surat al-‘alaq, misalnya dengan jelas mengandung unsur pendidikan.

     Allah dalam konsep pendidikan islam merupakan “pendidik” yang maha agung, yang bukan hanya mendidik manusia melainkan juga makhluk seluruhnya. Oleh karena itu, filsafat al-qur’an tentang pendidikan bersifat menyuruh dan terpadu, mengandung perkembangan dan perubahan. Terpadu artinya memadukan antara yang material dan spiritual, antara dunia dan akhirat. Filsafat al-qur’an mengandung perkenmbangan dan perubahan maksudnya mengajar manusia untuk meningkat kearah yang lebih baik dan sempurna.

     Sementara itu, sunah sebagai sumber normatif kedua senantiasa memberikan perhatian yang besar terhadap masalah pendidikan. Salah satu konsep pendidikan yang ditawarkan Rasulullah adalah konsep pendidikan tanpa batas ( no limits education ), baik tanpa batas dalam arti ruang (tempat) maupun tanpa batas dalam arti waktu, yang sering disebut pendidikan sepanjang hayat   ( long life education ).

     Pada intinya, apa yang menjadikan konsep pendidikan rasulullah melalui sunahnya memiliki dua fungsi, yaitu (1) menjelaskan sistem pendidikan islam yang terdapat didalam al-qur’an, dan sekaligus menerangkan hal-hal yang tidak termaktub didalamnya ; (2) menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama para sahabatnya, perlakuannya terhadap anak didik, dan bagaimana Rasulullah menanmkan keimanan kedalam jiwa mereka.

     Sementara itu, hal-hal yang dapat dipandang sebagai sumber historis bagi filsafat pendidikan islam terdiri dari hal-hal berikut.

     Hasil-hasil kajian ini dari watak manusia, tingkah lakunya, proses pertumbuhannya, kemampuan-kemampuannya, dan lain-lain, baik yang bersifat biologis, psikologis, maupin sosiologis, yang senantiasa serasi dan seorientasi dengan akidah dan lain-lain dalam agama islam.

    Hasil-hasil kajian ilmiah dalam bidang pendidikan mengenai proses belajar manusia, dan berbagai corak kajiannya yang tidak bertentangan dengan semangat ajaran islam.

     Pengalaman-pengalaman keberhasilan kaum muslim dalam bidang pendidikan. Keterbukaan penerimaan terhadap pengalaman-pengalaman ini akan berfaedah bagi perbaikan filsafat pendidika islma yang dirumuskan.

     Prinsip-prinsip yang menjadi dasar filsafat politik islam, ekonomi islam, dan sosiologi islam yang diterapkan dalam masyarakat muslim.

     Nilai-nilai dan tradisi-tradisi sosial budaya masyarakat muslim yang tidak menghambat kemajuan dan perubahan.
















Daftar Pustaka


Nizar Samsul, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009.

Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia, 2009.

Suharto Toto, Filsafat Pendidikan Islam, Yogyakarta : Ar-ruzz Media, 2011.

Tafsir Ahmad, Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2010.


No comments:

Post a Comment